Salah satu yang menjadi ciri khas Pusdai Jabar adalah Al-Qur’an Mushaf Sundawi, sebuah karya monumental mushaf yang iluminasi atau ornamenya berasal dari motif Islami Jawa Barat, seperti mamolo mesjid, motif batik, mihrab, dan artefak lainnya. Desainnya bersumber pada flora khas Jawa Barat, seperti Gandaria dan Patrakomala.
Penulisan Mushaf Sundawi mengacu dan tunduk pada kaidah baku ragam Utsmani dengan jenis tulisan atau Khat Naskhi, Tsuluts, dan Kifi. Mushaf Sundawi ditempatkan pada peti yang didesain khusus dan dipamerkan di ruang pameran Mushaf Sundawi di kompleks Pusdai Jabar.
Mushaf Sundawi diharapkan menjadi bagian dari tonggak kesinambungan upaya aktualisasi kehidupan dan spiritualitas Islam yang terus dilestarikan hingga generasi akhir zaman.*
Mushaf Sundawi, Iluminasi Al Quran Bermotif Lokal
BANDUNG, KOMPAS- Masyarakat Jawa Barat memiliki Al Quran dengan iluminasi dan desain khas Sunda yang dinamakan Mushaf Sundawi. Al Quran tersebut disimpan di Galeri Pusat Dakwah islam (Pusdai) Jawa Barat, jalan Diponegoro, Kota Bandung.
Banyak orang belum mengetahui adanya Al Quran dengan hiasan motif Sunda. Begitupun orang-orang yang sedang menunggu petang di masjid Pusdai jabar.
Mushaf Sundawi disimpan dalam tiga peti yang dilapisi emas dan berukir khas Sunda. Di dalam peti terdapat lembaran Al Quran besar. Sementara di dinding galeri juga terpajang beberapa ayat Al Quran yang memiliki iluminasi yang berbeda-beda.
Menurut Endah Suciati (31) Koordinator Pepustakaan dan Galeri Pusdai Jabar, Mushaf sendiri berarti kitab. Seni mushaf atau memperindah kitab sudah dimiliki oleh masyarakat Indonesia seperti Aceh, Sumatera Barat, pesisir Utara Jawa mulai dari Banten, Cirebon, Jawa Timur, dan Madura. Dari kalimantan, Sulawesi, Ternate, dan daerah-daerah Islam lainnya sudahh dipastikan adanya mushaf tulisan tangan yang dihiasi iluminasi. Iluminasi antara lain terdapat pada cover Al Quran dan bingkai ayat-ayat setiap lembar Al Quran.
Pada tahun 1995, berdasarkan surat keputusan Kepala Daerah Jawa Barat dibuat Mushaf Sundawi. Endah mengatakan, inspirasi iluminasi dan desain berasal dari momolo (kubah mesjid khas Jawa Barat), batik, ukiran mimbar dan artefak lain. Motif berbentuk binatang dan bunga khas Jawa Barat. Motif tersebut antara lain dua buah motif teh, padi, motif khas Banten, Bogor, Sukabumi, Cianjur, Tangerang, Betawi, Indramayu, Cirebon, Bekasi, karawang, Purwakarta Subang, Ciamis, Banjar, dan Tasikmalaya.
Dari sejarahnya, saat Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu Allah pada abad ke-7, Al Quran pada awalnya ditulis di atas pelepah kurma, kulit, tulang, dan lempengan batu. Pada masa khalifah ketiga Uthman bin Affan yang memerintah pada tahun 644 – 665, ayat-ayat yang terkumpul ditulis kembali dan dihimpun dalam bentuk kitab.
Pada masa Abdul Malik bin Marwan wilayah kekuasaann Islam makin luas sehingga pemeluknya bukan saja orang Arab. Sejak saat itu Al Quran disempurnakan dengan memberi tanda baca. Saat itu pula berkembang perpaduan seni Islam dan seni lokal yang tertuang dalam desain dan iluminasi Al Quran. Seni lokal itu antara lain Arab, Mesir, Spanyol, Bizantium, India, Cina, termasuk Indonesia. (Sumber: kompas.com).*
Number of View: 272
