Amar ma’ruf nahyi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran) harus dilakukan dengan cara halus dan penuh kesabaran. Rasulullah Saw bersabda:
“Tiadalah sikap halus dalam suatu hal melainkan memperbagus sesuatu itu dan tiadalah sikap kasar dalam suatu hal melainkan hanya memperburuknya.” [HR Muslim].
“Allah bersifat sangat halus, menyukai sikap halus dalam semua urusan; dan Dia memberi karena sikap halus itu, sesuatu yang tidak akan Dia berikan karena sikap kasar” [HR Muslim].
Juru dakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar harus bersifat hilm (lembut, halus) dan sabar terhadap setiap gangguan. Jika tidak, akan lebih banyak membawa mafsadat daripada maslahat.
Dalam kisah Al Qur’an, Luqman berkata kepada puteranya:
“Hai anakku, dirikan sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [QS 31:17].
Karena itu, Allah SWT menyuruh bersabar kepada para Rasul-Nya yang notabene para “panglima” pasukan ‘amar ma’ruf nahi munkar.
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berikan peringatan. dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.” [QS 74:1-7]
Allah memulai ayat-ayat risalah (kerasulan)-Nya kepada makhluk dengan menyuruh memberi peringatan dan mengakhirinya dengan menyuruh sabar.
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami…” [QS 52:48]
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhi mereka dengan cara baik.” [QS 73:10]
“Maka bersabarlah kamu seperti bersabarnya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para Rasul..” [QS 46:35]
“Maka bersabarlah kamu (wahai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan jangan kamu seperti orang yang berada dalam” (perut) ikan (Nabi Yunus)…” [QS 68:48]
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan” [QS 16: 127]
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.” [QS 11:115]
Karena itu, dalam tugas kewajiban ‘amar ma’ruf nahi munkar harus ada tiga hal: ilmu, halus, dan sabar.
Ilmu harus sudah dimiliki sebelum melakukan tugas kewajiban ‘amar ma’ruf nahi munkar. Sikap halus harus bersamaan dengan pelaksanaan tugas. Sifat sabar sesudah pelaksanaan tugas, meski sebenarnya ketiganya harus ada dalam semua keadaan.
Diriwayatkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dalam kitab Al-Mu’tamad: “Tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahyi munkar kecuali orang yang paham (punya ilmu) tentang apa yang ia suruhkan, paham tentang apa yang ia cegah, bersikap halus dalam apa yang ia suruh dan cegah, dan bersifat hilm (sabar) dalam apa yang ia suruh dan cegah.”
Disyaratkan ketiga itu dalam amar ma’ruf nahi mungkar merupakan sesuatu yang menimbulkan kesulitan terhadap orang banyak. Maka disangka bahwa dengan itu kewajiban amar ma’ruf nahi munkar gugur dari mereka, hingga mereka tidak melakukannya.
Terkadang yang demikian bisa memberi mudharat lebih banyak daripada mudharat yang ditimbulkan oleh ‘amar ma’ruf nahi munkar tanpa syarat itu, atau terkadang mudharatnya lebih sedikit.
Orang-orang yang melaksanakan dakwah dengan kekerasan, jelas tidak memenuhi syarat moralitas juru dakwah (lembut dan sabar). Kekerasan hanya berlaku dalam dua situasi: perang dan eksekusi hukuman.
Di luar keduanya, umat Islam harus mengedepankan sabar dan sikap lemah-lembut. Apalagi belakangan ini, cap radikalisme sangat mudah ditujukan kepada kaum Muslimin. Waspadalah dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Sumber: Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘Anil Munkar, Ibnu Taimiyah).*
Number of View: 150
