|
Gerakan sufi terkemuka Somalia, Ahlu Sunnah wal Jamaah (ASWJ), menyatakan perang terhadap kelompok militan Al-Shabab yang diduga terkait jaringan Al-Qaidah. Al-Shabab dikenal sebagai kelompok anti-pemerintah yang kerap melakukan serangan bersenjata terhadap pasukan penjaga perdamaian Afrika dan pasukan pemerintah.
“Shabab salah membina orang yang telah salah paham tentang nila-nilai Islam yang sebenarnya,” ujar Sheikh Sharif Sheikh Muhieddin, pemimpin kelompok ASWJ kepada AFP (5/11) dan dikutip IslamOnline.net. “Kini Shabab membunuhi orang Somalia karena tidak berpihak kepada mereka.”
Lusinan pemimpin gerakan keagamaan yang biasanya tidak turut campur urusan politik itu, baru-baru ini berkumpul di Nairobi. Mereka datang dari Somalia dan pengasingan di negara-negara Barat guna membentuk “dewan perang”.
ASWJ adalah gerakan nasioal Sufi yang dikenal anti-kekerasan. Namun, kini mereka siap angkat senjata karena kelompok Al-Shabab mulai menyerang kaum sufi dan masjid. Sejumlah tokoh Sufi dikabarkan tewas dan beberapa masjid dirusak.
"Para pejuang Ahlu Sunna wal Jamaa mempertahankan diri dan nyawa warga Somalia lainnnya yang terancam kegilaan Shabab,” kata Sheikh Muhieddin.
ASWJ dikenal tidak berpihak kepada kelompok mana pun, namun menurut pemimpinnya, kini mereka harus bertindak demi menyelamatkan identitas keislaman Somalia dari kum ekstremis.
"Di wilayah saya, sebagai contoh, Ahlu Sunna wal Jamaa tidak pernah berafiliasi kepada kekuatan politik,” jelas Mohamed Ahmed Alin, presiden wilayah semi-otonomi Galmudug. “Tiap orang Ahlu Sunna, titik! "
Kelompok Ahlu Sunna wal Jamaa Somalia terbentuk tahun1991. “Kami tidak bertujuan meraih kekuasaan,” kata Abdulkadir Mohamed Somow, pemimpin senior sufi dari Mogadishu. “Gerakan kami adalah memerangi kekuatan anarkis Al-Shabab. Kami akan segera melucuti senjata kami segera setelah mereka kami kalahkan.”
Meski demikian, tokoh senior ASWJ Garowe, Abdullahi Mohamoud Hassan, berpandangan lain. “Jika Allah menghendaki, mungkin suatu hari kami akan memainkan peran dalam mengelola negeri ini. Namun terlalu dini untuk berbicara masalah tersebut.” (iol/mel).* |